Archive for Oktober 2011

kesadaran

by 0

aku tak pernah tau apa yang akan terjadi padaku berikutnya

sungguh hal ini sulit diramalkan atau ditebak

kadang aku berada di tempat dengan waktu dan suasana yang salah

hilang sudah harapan akan hangatnya pijakan tumpuan

kepercayaan dan loyalitas mulai dipertanyakan

sampai saat ini aku masih menunggu

terlalu banyak menunggu pun tidak baik

tapi bagiku ini bukan sebuah masalah yang besar

menunggu sesuatu yang tidak pasti itu memang menyakitkan

akan tetapi lebih menyakitkan lagi jika di akhir kamu tidak mendapat apa-apa

beginilah posisiku wahai kawan

aku tidak dapat beradu nasib di sisi kiri atau kanan

karena semuanya sama di hati ku

aku mencintai yang satu

dan aku sayang dengan yang satu

benarkah?

itulah mengapa aku harus melepas keduanya

biarkan keduanya itu menjauh dari cengkramanku

biar saja kutekan hati ini

agar dia mengerti bahwa dia tidak boleh seenaknya seperti ini

aku benar-benar butuh orang untuk diajak bertukar pikiran

tolonglah wahai Tuhan Yang Maha Esa

sungguh hamba hanyalah makhluk kecil dimata-Mu

tolonglah berikanlah hamba petunjuk

agar hamba jauh dari penderitaan ini

sudah cukup bagi hamba untuk merasakan pilu ini

akan tetapi aku bersyukur pada-Mu

karena pilu inilah yang membuat hamba menjadi manusia

Mantra Malam Pegasus

by 0

Semalam……..
kubuka kembali lemari kayu tua di ujung kamarku.
Kuambil segulung kertas usang didalamnya,
kubuka gulungannya,
sebuah peta terbentang di kertasnya yang sekarang tak lagi wangi,
peta tentang aku dan kamu yang kugambar entah berapa waktu yang lalu,
ada noktah hitam dipinggir peta itu,
sebuah noktah yang mulanya hanya sebuah titik kecil ,
entah sudah berapa kali aku menimpali titik itu,
masih dan masih tetap di titik itu,
terus dan terus hingga dia menjadi noktah hitam pekat.
titik sebuah perjalanan, yang bahkan belum aku mulai.
Semalam…..
kulihat jejak-jejak langkah berwarna merah,
jejak langkahmu yang telah begitu jauuh menapaki konstelasi peta itu,
kau telah melangkah begitu cepat,
terlampau cepat seakan tak menapaki tanah,
entah kenapa demikian aku sendiri tak tahu,
mungkin di waktu terdahulu,
di malam-malam rahasia,
kau diam-diam telah merapal mantra-mantra sakti Saint Seiya,
mendapatkan sayap-sayap pegasusnya,
dan dengan sayap-sayap itu kau terbang,
melesat dengan cepattt !!!
Sedangkan aku…
aku masih disini,
berdiri di atas kaki yang mulai dekil diliputi debu,
yang mulai terasa letih oleh waktu, perjalanan dan harapan.
Para pujangga berkata,
orang yang jatuh cinta ibarat penggembala bintang-bintang,
Dan malam ini kesekian kalinya aku bertanya
“jika kita menyembah Tuhan yang sama,
mengapa begitu sulit kita bersama ?”
Beberapa pesan singkat yang datar kau balas,
beberapa telepon yang hambar kau jawab,
Semalam…..
telah kutetapkan langkahku,
aku akan tetap di sini,
aku tak akan mengejarmu lagi,
aku hanya akan duduk di sini,
menyanyikan lagu-lagu cinta dan rindu,
satu saat kelak, bila kau lelah dengan perjalananmu,
kau bisa beristirahat di sini,
untuk sekedar duduk,
atau menyanyikan lagu sendu,
satu saat nanti, bila kau lupa irama dan syairnya,
aku akan menyanyikan bait-bait lagunya untukmu,
Semalam,
kugulung kembali peta usangku,
kuletakkan petaku ke dalam lemari kayu di ujung kamarku.
(pic by johnhorrigan ; kata2 bercetak miring diambil dari novel karya Anif Sirsaeba berjudul “dibawah naungan cinta”)
by:http://scarlett-journey.net/2008/06/09/mantra-malam-pegasus/#more-31

Coklat Makan Orang

by in 0

Pertama, aku tidak tahu kenapa jari jemariku menuliskan ini.
Kedua, tulisan seperti ini bukan gayaku.
Ketiga, sayangnya ini nyata.



Akan kuceritakan pada pembaca semua tentang beberapa penggal kisahku yang sedikit menuai luka dihatiku. Jelas. Jawaban pertama kalimat di atas. Sakit hati.


Ada seseorang yang dekat denganku. Kukira aku harus mengubahnya menjadi 'past tense'. Ada seseorang yang dulu dekat denganku. Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Dan ia adalah orang pertama yang membuatku jatuh hati pada kimia. Sungguh sakit ketika kuceritakan hal ini pada kalian semua. Dia adalah 'orang pertama dari jawaban ayam dan telur'. Aku sangat kagum padanya sebagai kakak yang baik yang sealiran denganku. Tapi ternyata dugaanku mungkin tidak tepat. Aku tak akan mengatakan meleset, karena banyak juga hal yang berkenan. Tetapi suatu hari ada yang berkata padaku seperti ini tepatnya "Yah.. dia kan emang baik sama semua cewek". Pertama aku tidak percaya atas kalimat yang orang itu lontarkan. Kedua, sungguh aku lupa siapa yang mengatakan hal ini. Tapi pada akhir cerita aku harus berterimaksih pada orang itu. Kuyakin suatu saat. Sudah lama dia dekat denganku dan ku kira persahabatan ini tidak akan berakhir, aku bersyukur mempuyai teman seperti dia. Dia adalah orang pertama yang sekian tahun membuatku sedikit mengubah presepsiku bahwa masih ada laki-laki yang bisa dipercaya. Dia sudah mengalami banyak hal denganku, sungguh seperti biasa aku mengalami luka yang mendalam karena 'semuanya' sudah lama berjalan. Dia dan aku pernah dijebak dengan video tentang kisah kita yang cinta sama pelajaran kimia. Sialan orang itu. Mungkin ini adalah awal perpecahan kita. Karena hal itu gosip kami yang dekat pun menyebar hingga ke teman-teman Romansa dan video ini pun menyebar ke sana juga. Lalu aku ditegur habis-habisan oleh ayah bidang (kabidku) pada saat itu. Aku pun merasa tidak enak dengan dia. Begitu pula dia padaku. Sama. Karena kupikir dia adalah sahabatku makanya aku jujur saja dengan dia. Apa yang sebenarnya terjadi. Dan seperti biasa dia menanggapinya dengan bijak. Akan tetapi setelah kejadian itu kami jadi tak pernah berhubungan lagi, dan sepertinya dia banyak berubah. Aku merasa aku kehilangan seorang sahabat. Dan kami pun berdiam diri untuk waktu yang lama. Dan setelah kejadian itu pun kami tidak pernah membahas kimia bersama. Dan aku pun mulai jauh dengan kimia. Di sini aku belajar bahwa sebuah fitnah itu merusak persahabatan. Setelah beberapa bulan kami berdiam diri. Datanglah kabar itu. Aku mendengar kabar bahwa dia telah mencintai seseorang yang beda haluan dengannya. Aku pun mencoba untuk tidak mempercayai hal itu karena aku yakin bahwa dia bukan orang yang seperti itu. Karena aku mengenalnya dengan baik.Tapi hasilnya sia-sia kabar itu memang benar adanya. Ingatanku pun kembali ke masa lalu karena dia pernah menceramahiku panjang lebar tentang hal ini. Tentu saja. Kaget setengah hidup aku. Tapi apa boleh buat aku hanya bisa mendoakannya agar dia diberi hidayah oleh Yang Maha Kuasa. Suatu saat kukirim pesan padanya mencari kejelasan kenapa dia melakukan hal ini. Tanpa jawaban yang pasti 2 minggu berikutnya dia sudah kembali ke jalan yang benar. Sungguh aku sedikit lega dengan dia akhirnya. Tapi kabar antara persahabatan kami pun semakin tidak baik. Jujur. Padahal kami berdua benar-benar tidak ada apa-apa, hanya sebatas persahabatan. Akhirnya kami pun berdiam diri lagi. Dan aku pikir dia kembali seperti dulu kala. Tetapi naas pikirku salah lagi kali ini. Dia menganggapku berbeda dan berasa seperti tidak pernah mengenalku sebelumnya, di jalan pun kami tidak pernah saling menyapa lagi. Sakit ketika kuteringat betapa dekatnya kami dulu. Dan beberapa menit yang lalu pun aku melihatnya mengirim pesan kepada seorang temanku. Aku hanya merasa terbuang untuk kesekian laginya. Apapun yang dia lakukan, dia tetaplah orang baik dimataku. Sampai kapan pun. Karena, dia sahabatku.

Impian, Harapan, dan Cita-cita

by in 0

Bermimpilah ! karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu, begitulah kata-kata Arai, salah seorang tokoh dari Laskar Pelangi, begitu mendengarnya jatuh hati aku pada kata-katanya itu. Mimpi itu tidak hanya diimpikan saja akan tetapi harus dipeluk. Ini sebuah ungkapan yang luar biasa untuk menyatakan kesungguhan dalam meraih mimpi itu. Akan jadi apa kita kelak adalah sesuai dengan apa yang kita pikirkan setiap waktu, apa yang kita harapkan setiap pagi, dan apa yang kita impikan setiap malam. Ini bukanlah hanya sebuah teori kawan. Walaupun aku belum pernah mencapainya tetapi hal ini seperti membuatku berjuang hari demi hari untuk menggapai yang sudah aku ukir dilubuk hatiku. Seperti memberi kekuatan ajaib pada kita untuk menggapainya dan terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Intinya adalah jika kita memiliki sebuah cita-cita kita harus bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Pikirkan setiap saat hingga ia masuk mimpimu. Jangan pernah biarkan orang lain melepaskan pelukanmu dari keyakinan akan cita-citamu. Cita-cita bukanlah teori akan tetapi sebuah usaha untuk menentukan hasil akhir. Hal yang kita butuhkan adalah percaya, semangat, dan do'a. Selalu libatkan Tuhan Yang Maha Esa dalam segala aspek kehidupan kita. Apapun yang terjadi Tuhan adalah yang pertama dan yang paling utama. Aku sangat mencintai Tuhanku dan aku akan membawanya dalam segala aspek kehidupan yang aku pilih kelak, karena aku yakin bahwa Tuhan tiada akan pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun. Lalu yang tidak kalah penting adalah jangan berputus asa, berjuanglah hingga akhir, hingga kita tidak dapat berjalan dan berkata lagi, hingga semua indera kita telah mati. Bukankah piala selalu diberikan di akhir perlombaan?. Ini bukanlah sebuah hal eksak yang jawabannya pasti, karena bukan hanya kita saja yang menjadi variabelnya tetapi takdir Tuhan tetap berperan. Janganlah kita meninggalkannya sekalipun. Ketika ada orang yang meragukan kita katakan padanya bahwa 'Tuhan selalu bersamaku dan Ia tidak akan ragu padaku, karena aku percaya mimpiku ada ditangannya'. Dalam kamusku aku boleh saja menghajar orang-orang yang mengejek cita-citaku, yang selalu mencemooh dan provokator yang lain, aku hanya mengambil kesimpulan bahwa orang yang seperti itu berarti dia tidak berani bermimpi. Sudah itu saja. Jadi, kita harus YAKIN, SEMANGAT, BERDO'A ! Aku akan mengulangnya sekali lagi. bukankah piala selalu diberikan diakhir perlombaan?

Dia

by in 0

dia yang kuharap datang saat aku merasa lemah dan jatuh
ternyata bukan dia
dia yang kuharap mendukungku dalam segala langkahku
ternyata dia tidak ikut andil
dia yang kuharap membawakan payung saat aku basah kuyup karena hujan
ternyata dia hanya berdiam diri
dia yang kuharap meminjamkan bahunya untukku saat aku menangis
bahkan dia tidak mengenalku
dia yang kuharap memberiku semangat lewat senyumannya
bahkan kurasa dia tidak ingin mengenalku
dia yang kuanggap orang yang paling aneh di dunia ini
ternyata dia tidak tahu aku memperhatikannya
dia yang selalu berlari dalam pikiranku
ternyata dia mengunci rapat hatinya untuk orang-orang sepertiku
tapi bagaimana pun juga dia akan tetap kusegani
kesederhanaannya lah yang membuatku takjub pada makhluk-Mu yang satu ini
kekuatannya berolah hati lah yang membuatku mengaku kalah padanya
tanpa dia memberi tanda bahwa dia perang denganku
20 bulan itu bukan waktu yang singkat
dan juga bukan waktu yang lama untuk mulai memahami seseorang
tapi yang aku tahu
aku tak akan pernah paham dia seutuhnya
karena dia tak ingin aku pahami
aku tak pernah merencanakan sesuatu pun agar dia dan aku dapat saling mengenal
tetapi takdir lah yang bermain dengan kami berdua
entah sampai kapan takdir membuat kami bermain lebih lama
yang terpenting adalah sepertinya hatiku padanya
tak akan berubah
walau dia tidak pernah memandangku sekali saja

Kembaranku ?

by in 1

Terhitung waktu yang sangat lama aku tidak menulis, eh mengetik. Ah sudahlah maksudnya menuangkan pikiranku di dalam kata-kata. Maaf. Mungkin sedang terjadi galat dalam qolbu saya. Insha Allah pelan-pelan kembali tertata. Kali ini aku ingin bercerita pada kakak-kakak semua tentang seseorang yang sangat mirip denganku. Bukan fisik yang mirip tetapi, takdir yang sangat  mirip. 
Sungguh aneh. Dia adalah orang yang sangat anggun, ya benar seorang wanita. Dia satu tingkat diatasku. Umurku 11 tahun ketika pertama kubertemu dengannya. Aku dan dia dipertemukan di sebuah organisasi Palang Merah Remaja di SMP. Dia pun dari generasi yang sama denganku, karena sistem sekolahku adalah generasi sama adalah satu keluarga dan pada saat itu aku adalah adik yang paling kecil istilahnya. Murid baru. Aku dan dia berasal dari kelas B. Sungguh ketika pertama kali bertemu dengannya ku kira dia biasa saja tidak ada sesuatu yang special dalam pandangan pertama. Seperti kakak tengah yang lain-lain. Dia adalah seorang kader PMR. Orang-orang yang di PMR adalah orang0orang yang bersahaja, anggun, pintar, dan berjalan sesuai aturan. Tidak ada sesuatu untuk dikhawatirkan dalam organisasi ini, karena kupikir orang-orang yang waras pasti memilih organisasi ini untuk diikuti. Tetapi, aku tidak betah dengan PMR. Begitu hari pertama , aku langsung hengkang dan memilih PKS. PKS sangatlah kontras dengan PMR. Di organisasi yang satu ini wibawa, kepemimpinan, disiplin, keberanian, tanggung jawab dan kekeluargaan sangat dijunjung tinggi. Pendidikannya keras tetapi bersahaja. Anggota dari PKS ini adalah 30 orang, sedangkan PMR 100an orang pengikut.
Mengapa kupikir dia sama denganku?. Aku mulai mengenalnya ketika aku ikut Pramuka dan OSIS. Dia adalah seseorang yang agamis. Sangat. Begitu pula jalan yang kupilih. Aku sangat mencintai agamaku. Dia adalah seorang yang pendiam. Kita berdua sungguh spesifik dalam hal ini. Caraku berpakaianku pun mirip dengannya. Dia adalah keluarga B yang menjadi seorang ketua OSIS. Ketua umum. Begitu tahun berikutnya, entah dosa apa yang aku perbuat, aku menjadi ketua OSIS. Sungguh sebuah kejadian yang menjemukan di keluarga B’ku. Sehingga pada saat upacara serah terima jabatan terpanggil seperti ini “Penyerahan jabatan serta tanggung jawab oleh HKU kelas 9B kepada Annisa Luthfia kelas 8B”. Begitulah pasal demi pasal dibacakan oleh protokol dengan terus menggunakan nama kelas. Kau tahu apa yang kulakukan dengannya di meja depan kepala sekolah yang saat itu terpajang di upacara pelantikan tersebut?. Aku tertawa dengannya karena mendengar protokol terus menerus mengatakan hal yang sama. Aku jadi rindu masa-masa ini. Tetapi, masa kepemimpinanku dengannya agak berbeda. Kepemimpinannya adalah ‘sejalan aturan dan di kapling aman’ maksud aman disini adalah tidak di bawah garis standar yang dapat menghebohkan alumni. Sedangkan kepemimpinanku adalah ‘nekat’. Sudah kupikir satu kata saja cukup menggambarkan diriku saat itu. Hasilnya pun berbeda. Aku lebih mengalami kehebohan dengan pihak sekolah, keluarga, teman seperjuangan, sehingga membuatku banyak bicara. Membuatku banyak bergaul dengan laki-laki dan orang dewasa lain. Bahkan, aku tidak berani membayangkan diriku pada tahun-tahun itu karena kupikir aku sangat sadis, semua adik kelas menunduk ketika melihatku. Ya Allah ampunilah dosaku.
Pernah terbesit diotakku bahwa dia tidak mirip denganku tapi kejadian yang lain pun muncul. Ketika aku hendak melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Aku mendaftar ke sebuah program unggulan disekolahku saat ini. Immersion class, begitu istilahnya. Hanya 28 orang yang diterima dalam program itu. Ketika ku mendaftar dan melihat pengumumannya. Aku berada diurutan 29. Ya Allah ampunilah dosaku.
Ketika kuberjalan pulang penuh dengan kelinglungan kuberetmu dengan kakak kelas generasiku dulu. Tepatnya teman satu kelasnya kak HKU. Kemudian dia memberitahu sesuatu yang mengejutkan bahwa tahun lalu, kak HKU pun juga mendapat posisi yang sama denganku, yaitu noomor 29 dengan 28 penerimaan. Kau tahu seketika itu keinginanku untuk putus asa menjadi hilang. Bukankan aku dan dia sungguh identik terhadap takdir Allah?. Oh ya satu lagi, kesalahanku yang paling besar di SMA sampai saat ini adalah dicalonkan sebagai Mitramuda. Kau pasti sudah dapat menebaknya bahwa tahun lalu dia pun juga dicalonkan sebagai Mitramuda. Tidakkah lama-lama cerita ini menjadi sedikit membosankan. Kupikir dengan dukungan yang kuperoleh aku akan memiliki takdir yang sedikit berbeda dengannya, akan tetapi pada kenyataannya. Kami berdua sama-sama tidak terpilih. Ya Allah ampunilah dosa kami.
Aku dan dia mengikuti organisasi kerohanian di sekolahku. Dan dia adalah amirohnya. Dulu aku sudah di pesan agar aku menjadi amiroh di organisasi kerohanian ini. Akan tetapi aku memilih jalan lain, aku telah duluan dilantik di organisasi lain terlebih dahulu. Sepertinya jalan kami mulai sedikit berbeda. Dia sungguh murni memilih jalan dakwah dalam hidupnya, impianku ambisiku. Segala sesuatu dalam dirinya menampilkan bahwa dia adalah aktivis dakwah. Tetapi diriku, saat ini aku masih di dalam jalur yang 180 derajat berbeda dengannya, aku masih terperosok dalam pergaulan dan tingkah laku yang tidak sepenuhnya memperlihatkan bahwa aku adalah aktivis dakwah Islam. Dia pakai rok, aku pakai celana. Dia menelungkupkan tangan dan aku bersalaman. Jalurnya adalah dakwah yang murni, jalurku adalah jaringan social, organisasi, dan kemenangan serta nama baik. Ini menyakitkan. Tapi, karena aku bertanggung jawab terhadap jalan yang aku pilih. Aku ingin menyelesaikan tugasku sampai akhir dan terus berdakwah. :)